Konon, kesenian bernama “Bangsawan” ini pada masa lalu bernama Wayang Parsi. Kesenian ini diperkirakan masuk Penyengat tahun 1906 dan akhirnya menyebar ke berbagai daerah di wilayah Kepulauan Riau. Penamaan “Bangsawan” itu sendiri, untuk pertama kalinya, konon diberikan oleh Abu Muhammad Adnan, yang sering disebut juga dengan Mamak Phusi, kepada perkumpulan yang didirikannya. Bentuk seni pertunjukan tradisional ini berupa komedi stambul dengan cerita seputar kehidupan istana. Ketika pertunjukan sedang berlangsung, maka lagu-lagu yang mengiringinya, di samping lagu-lagu yang sering dinyanyikan dalam joged atau tarian Zapin, adalah lagu-lagu Stambul Dua, Stambul Opera, dan Dondang Sayang. Sedangkan, cerita yang dimainkan antara lain: 1001 Malam, Rakyat Melayu, Dongeng India dan Cina, dan Hikayat Melayu.