Optimalkan Pengelolaan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia Melalui Tradisi Mandi Syafar diKabupaten Lingga

Optimalkan Pengelolaan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia Melalui Tradisi Mandi Syafar diKabupaten Lingga

Tanjungpinang,7/10/2018-,Dalam meningkatkan tali silaturahmi antara sesama,Kabupaten Lingga melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggelar sebuah kegiatan tradisi lama yang sampai sekarang masih terjaga eksistensinya yang dikenal dengan sebutan tradisi “Mandi Syafar”. Mandi Syafar merupakan tradisi lama melayu yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam digelar setiap tahun dibulan Safar dalam hitungan tahun Hijriah.

Sesuai dengan namanya,tradisi ini dilaksanakan dengan acara mandi yang tujuannya untuk menolak bala atau mengusir unsur-unsur negatif yang datang mengganggu. Tradisi Mandi Syafar ini sudah berlangsung sejak kekuasaan kekuasaan kerajaan Sultan Riau Lingga pada tahun 1883 – 1911 dibawah pimpinan Sultan Abdulrahman Muazamsyah.

Selain digelar oleh Kabupaten setempat,masyrakat setempat juga pada umumnya juga menggelar Mandi Syafar,ada yang melaksanakan nya secara berkelompok ditempat pemandian umum dan ada juga yang melaksanakan disekitar mesjid-mesjid yang ada,serta ada juga yang menggelar ditempat tempat wisata seperti Pantai Pasir Panjang,Pemandian Lubuk Papan yang juga merupakan objek wisata yang banyak dikunjungi warga.Makna sosial yang diambil dari kegiatan ini adalah terjalinnya hubungan silaturahmi antar keluarga dan masyarakat yang ditandai dengan kekompakan dan kebersamaan serta diharapkan juga dapat menjadi daya tarik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Kabupaten Lingga.

Menikmati indahnya wisata alam Kabupaten Lingga sambil mengikuti dan menyaksikan tradisi Mandi Syafar ini dengan berbagai kegiatan pendukung akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan terkhususnya dari asfek wisata sejarah dan budaya.

( By : Welly )